Menulis Buku Bunda Eni “Berjuang Melawan Arus” Cetakan ke 3

  • Whatsapp

Perkenalan saya dengan Dra Ir Hj Eni Sumarni, MKes atau akrab disapa Bunda Eni sebenarnya sudah lama, sekitar6 tahun lalu saat saya masih bekerja di Sumedang. Masih hangat dalam benaku saat itu, Bunda Eni urang Situraja datang ke Redaksi Sumedang Ekspres untuk bersilaturahmi.

“Bunda ingin maju di Pilbub Sumedang dari jalur independen, tolong dibantu promosinya ya, berapa bujetnya” katanya. Bunda Eni sadar betul media bisa mengangkat elektabilitas. Apalagi dia adalah pendatang baru dalam perpolitikan kota tahu. Meski pituin Sumedang tapi istri Jenderal Angkatan Laut (Laksamana Muda) ini lama di luar Sumedang. Sebagai pengusaha dan dosen.

Read More

Singkat cerita, MoU pun disepakati, Bunda Eni teken kontrak kerjasama iklan dengan manajemen. Selama tiga bulan gencar meraih dukungan warga dan kegiatannya selalu diliput media. Saya juga memposisikan Bunda Eni  bukan saja sebagai narasumber berita, tapi  sebagai teman. Sebaliknya Bunda Eni mengagap saya sebagai konsultan media, legeg nya.

Di mata saya Bunda Eni adalah sosok perempuan  cerdas, tangguh, teguh dalam pendirian dan visioner.  Kalah jadi bupati Sumedang bukan berati harus mundur dari politik, Bunda Eni tak kapok dan maju lagi jadi  caleg Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) mewakili Provinsi Jawa Barat pada Pemilu Legislatif 2014. Alhasil Bunda Eni meraih suara sebanyak 2.042.130 atau di posisi kedua setelah Oni sang pelawak asal Subang itu.

Khusus caleg DPD perempuan, perolehan Eni Sumarni terbesar  di Indonesia. Dan Bunda Eni duduk di  komite I DPD RI yang membidangi otonomi daerah, dana perimbangan pusat dan daerah, hukum dan ham, kependudukan, dan informatika.

Bunda Eni berhasil ke senayan, tapi saya malah nyungseb di kampung halaman. Saya tak mengetahui lagi perkembangan beliau, jarang kontak meskipun nomor hapenya masih ada. Tapi seperti yang sudah diatur oleh Allah tiba-tiba suatu hari saya kangen juga sama Bunda Eni. Ini setelah melihat baner besar di Ponpes Sirnarasa Panjalu. Ternyata Bunda Eni sudah silaturahmi kepada Pangersa Abah Aos.

Iseng nelpon lalu beliau meminta saya melanjutkan proyek buku “Berjuang Melawan Arus”. Buku itu adalah catatan perjalanan Bunda Eni dari mulai nyalon Bupati Sumedang sampai berhasil jadi anggota DPD Jabar. Beliau mempercayakan saya yang nulis, karena saya adalah saksi hidup. “Aa kan sobat dan tahu perjalanan karier saya,” katanya. (AA maksudnya Aa DAR)

Meski saya suda tidak produktif lagi menulis, karena fokus jualan kue dan makanan olahan, demi Bunda Eni saya siap. Saya merenung, kenapa keahlian menulisku itu terkubur karena kesibukan usaha. Toh keahlian menulis itu adalah anugerah Allah yang mesti dimaksimalkan untuk kebaikan. Saya jujur imbalan dari menulis itu sangat sedikit, karena memang penulis di Indonesia kurang dihargai. Apalagi menjadi wartawan media mainstream milik kapitalisme, gajinya pun dibawah UMR.

Dengan Bismillah saya mulai lagi mengumpulkan data-data tentang Bunda Eni, buku cetakan ketiga ini nantinya lebih banyak tentang kiprah beliau di DPD dan perjalanan spritualnya bersama Thoriqoh Qodiriyah Naqsabandiyah. Sebab Bunda Eni yang tadinya bimbang apakah maju lagi atau tidak jadi caleg DPD, setelah sohbah (silaturahmi) kepada  Abah Aos, Bunda Eni yakin. “Bismillah saya maju lagi, Abah bilang tong gimir, maju terus untuk kebaikan,” katanya. (*)

 

Related posts