TENTANG SAYA

TENTANG KANG DAR

 

Dadang Abdul Rasyid, sapaan akrabnya Kang Dar. Lahir di Kaki gunung Syawal Kabupaten Ciamis Jawa Barat. Sejak lulus SMP sudah meninggalkan kampung halaman, merantau ikut ayah ke Ambon Maluku. Ayahku memang bos (kiridit) yang selalu pindah-pindah tempat berjualan. Di kota Manise inilah Kang DAR mulai mengenal dunia jurnalistik.

Lulus MAN I Ambon kemudian melanjutkan kuliah di STAIN AMBON (sekarang IAIN. Adalah Murid Tonirio (dosen) dan Sam Abede Pareno (budayawan) yang mengenalkan KANG DAR dalam dunia jurnalistik, sambil kuliah KANG DAR magang di Harian Suara Maluku Ambon (Grup Jawa Pos). Saking asyiknya nyemplung di dunia wartawan, sampai lupa menyelesaikan kuliah. Selain aktif di dunia jurnalistik, KANG DAR juga aktif di organisasi kemahasiswaan, pernah jadi pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia PMII Ambon. Dan membidani penerbitan kampus.

Pascakerusuhan Ambon tahun 1999-2001, KANG DAR pulang kampung ke Ciamis. Pernah nyantri di Ponpes Daarut Tauhiid Bandung (AA Gym) dan bergabung dengan divisi penerbitan Buletin Qolbunsalim bersama Basyar Isya. Hanya satu tahun di Daarut Tahiid, kemudian merantau lagi ke Jawa Tengah untuk bergabung dengan Koran Satria Pos, kini Radar Banyumas.

Dari Banyumas menyeberang lagi ke Kalimantan Selatan, awalnya menyusul ayah yang sedang jualan di Martapura. Tapi KANG DAR merasa berdagang bukan keahliannya. Menulis adalah passionnya. Lewat jaringan organisasi PMII Kang DAR dikenalkan kepada pemilik media BARITO POS, Guntur Prawira. Dia adalah tokoh dan Pengusaha Kalsel. Maka bergabunglah dengan Harian Barito Pos. Tak betah di Barito Post saat itu KANG DAR ingin pulang kampung saja ke Ciamis, tapi saat itu ada kabar Jawa Pos akan membuka koran di Kalsel, dan bergabunglah dengan Radar Banjarmasin. Radar Banjarmasin harus bersaing dengan Banjarmasin Post grup Kompas yang sudah mengakar. Bersama Erwin Dede Nugroho, Radar Banjarmasin mulai bersaing.

Karena pertimbangan keluarga, KANG DAR balik kampung ke Tanah Sunda. Setelah menganggur dan kerja serabutan, kembali lagi terjun ke dunia jurnalistik dengan bergabung dengan Harian Umum Galamedia Grup Pikiran Rakyat. Di Galamedia inilah Kang DAR dijuluki sebagai Dadang mayat, karena memang liputannya di kamar mayat RSUD Hasan Sadikin. Dari kamar mayat inilah informasi berita pembunuhan diungkap. Kang DAR pernah meraih sebagai penulis terbaik di Galamedia karena liputan human interesnya seputar bayi kembar siam di Kamar Mayat RSUD Hasan Sadikin.

Kurang lebih 3,5 tahun di Galamedia kemudian balik lagi ke Ciamis dan tertarik mendirikan Radio Komunitas. Ternyata naluri jurnalistik KANG DAR tak pernah padam, rindu membuat berita dan bergabung dengan Harian Radar Tasikmalaya (Grup Jawa Pos). Berbagai posisi pernah ditempati dari reporter, redaktur dan membenahi Radartasikmalaya.com. Terakhir menjabat sebagai pemimpin Redaksi SUMEDANG EKSPRES (Grup Jawa Pos).

Kini KANG DAR menekuni bisnis online dan mendirikan beberapa website berita dan blog, KANG DAR juga tercatat sebagai redaktur fokusjabar.co.id mendirikan Galuhnews.com, jurnalpriangan.com dan lainnya. Dalam bidang keagamaan tercatat aktif sebagai ikhwan TQN PP Suryalaya Sirnarasa. Kang Dar mengabdi dengan mendirikan juhuda38.com, website seputar kegiatan TQN PP Sirnarasa.

Selain aktif ngeblog KANG DAR juga menyeriusi bisnis kuliner dengan mendirikan KAROEHOEN FOOD. Cara memasarkan makanan khas Sunda dengan menggunakan medsos. KANG DAR juga sudah menelorkan bebrapa buku biografi tokoh diantaranya Eni Sumarni (anggota DPD RI), Herman Suryatman (Sekda Sumedang) dan meneribtakan e-book tentang bisnis kuliner. (*)