Dilema Profesi Jurnalis: Kesejahteraan Memprihatinkan Idealisme Rentan Tergadaikan

  • Whatsapp

Wartawan itu tugasnya nulis. Bukan yang lain. Kalau tugasnya yang lain bukan wartawan. Apa sih mas bro tugas lain itu. Sekarang kan banyak yang menggunakan label wartawan untuk kepentingan pribadi. Maklum sih banyak pengangguran, jadi profesi wartawan disalahgunakan. Dengan memakai baju PERS dan embel-embel lainnya datang ke desa-desa, sekolah untuk minta duit. Bahkan memaksa.

Ini pengalaman saudara saya, yang muak terhadap oknum wartawan. Hampir seminggu sekali orang yang mengaku wartawan itu datang dengan dalih mau wawancara proyek sekolah. Datang dengan gagah memakai baju dengan tulisan PERS di belakang. Tanpa sopan santun langsung nyelonong dan mencecar pertanyaan seputar bangunan RKB. Dan ujung-ujungnya kalau mau aman, kasih duit untuk wartawan.

Saudaraku yang merasa tak bersalah dan gerah, langsung mengontaku. Dengan nada emosi dia berkata” Apakah begitu kerjaan wartawan, cari-cari kesalahan orang lain, lalu memeras,” katanya.

“Itu bukan wartawan tapi oknum yang memakai embel-embel wartawan, kalau merasa dirugikan laporkan saja ke polisi,” kata saya.

Tapi stigma wartawan itu tukang cari kesalahan orang, sulit dihapus. Padahal itu kan oknum. Kalau namanya oknum bukan saja ada di profesi ini. Ustadz, polisi dan LSM juga ada kan oknumnya. Ada pepatah karena nila setitik rusak susu sebelanga. Yang artinya artinya hanya karena kesalahan kecil dan tak berarti, semua persoalan jadi kacau dan berantan.

Peribahasa itu kalau diartikan ke kasus diatas adalah karena oknum rusak sudah citra profesi wartawan. Wartawan terkadang memiliki citra yang jelek di kalangan masyarakat, ada yang menilai pekerjaan wartawan hanya sibuk dengan urusan orang, selalu meminta bayaran dengan narasumber dan berbagai pandangan tak menyenangkan lainnya.

Tetapi tidak semua wartawan menyemat image tersebut, hanya beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab dengan tindakan tersebut yang akibat perbuatan mereka, citra wartawan sebagai pekerjaan yang mulia jadi tercoreng. Bagaimanapun, dalam agama Islam diajarkan untuk menyampaikan kebenaran walau hanya satu ayat. Inilah yang mestinya dipegang wartawan dalam menyampaikan informasi.

Biasanya wartawan bodrek atau si oknum itu beroperasi di Kabupaten, desa dan kampung. Sebab mereka anggap masih sangat banyak orang yang
tidak tahu membedakan wartawan gadungan dengan wartawan asli. Namun orang kota dan berpendidikan pun seringkali
menjadi korbannya disebabkan ketakutan yang seharusnya tidak perlu.

IDEALISME DAN KESEJAHTERAAN

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) baru-baru ini merilis survei tahunan mengenai upah layak jurnalis pemula di DKI Jakarta pada 2019 adalah Rp 8,42 juta. Ini mengacu pada Upah Minimum Reguler (UMR) kawasan Ibu Kota pada tahun yang sama adalah Rp 3,9 juta. Fakta di lapangan, berdasarkan temuan AJI, masih terdapat 10 media di Jakarta mengupah jurnalis pemulanya di bawah UMR yang ada. Angka itu jelas, masih sangat jauh dari angka layak sebagaimana disuarakan.

Itu di Jakarta bagaimana yang di daerah seperti Ciamis, Banjar Pangandaran bahkan Bandung. Jadi memang dilematis, wartawan yang bekerja di media kredibel juga kalau dihadapkan dengan kesejahteraan tak bisa mengelak ketika disodori amplop. Apalagi isinya tebal. Meungpeun dinu Caang we, asal rido ulah menta,” begitu kata temen saya.

Padahal kami tahu persoalan kesejahteraan tidak menjadi alasan bagi jurnalis untuk menggadaikan idealismenya. “Memang harus diakui bahwa kesejahteraan jurnalis kita memang masih jauh dari harapan.

Hal itu tidak dibenarkan, karena sesuai kode etik jurnalistik, seorang jurnalis tak diperkenankan menerima pemberian atau suap dari pihak-pihak luar. Suap dikhawatirkan dapat memengaruhi independensi dan idealisme seorang jurnalis.

“Yang harus dilakukan bagi jurnalis yang kesejahteraannya kurang adalah dengan memperjuangkan haknya itu ke medianya, bukan malah menerima dari pihak lain,” ucap Manan.

Berbicara idealisme, keyakinan itu pasti tertanam dalam diri setiap pekerja profesi, apa pun itu, tidak hanya di bidang pers. Akan tetapi, faktor-faktor yang menggoyahkan idealisme juga tak bisa kita hindarkan.

Faktor-faktor itu akan semakin memiliki daya dan arti, ketika idealisme yang semula dijunjung tinggi jurnalis nyatanya tidak mampu mengantarkannya pada kesejahteraan. Kesejahteraan masih sekadar angan-angan.

Perbandingan

Realita jurnalis di Indonesia sepertinya jauh dari rekan seprofesinya di negara lain, misalnya di Amerika Serikat. Biro Statistik Tenaga Kerja AS, The US Bureau of Labor Statistics (BLS) menyebutkan rata-rata upah seorang jurnalis pewarta atau koresponden di AS adalah US$ 37.820 per tahun (Rp 528,8 juta) atau per jamnya US$ 18,18 (Rp 254.000).

Untuk reporter di media kecil, mereka dapat memperoleh upah US$ 20.000 – US$ 30.000 dollar (Rp 279 juta – Rp 419 juta) per tahun. Jika di bagi dalam hitungan bulan, maka seorang reporter di media kecil AS akan menerima Rp 23 juta – Rp 35 juta.

Sementara di media yang lebih besar, seorang jurnalis bisa mengantongi upah US$ 35.000 – US$ 55.000 dollar (Rp 489 juta-Rp 769 juta) bahkan lebih dari US$ 60.000 (Rp 838 juta) dalam setahun bekerja. Besaran-besaran di atas adalah upah untuk seorang jurnalis biasa atau baru.

Untuk editor dan jabatan di atasnya, tentu akan memperoleh jumlah yang lebih besar. Belum selesai disitu, permasalahan lain yang selalu membayangi seorang jurnalis adalah tindak persekusi yang kapan pun bisa dialamatkan kepadanya. Resio wartawan sangat besar.

Selamat Hari Pers Nasional! (*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *