Media Online Lokal, Gaya-gayaan Atau Memang Bisnis

  • Whatsapp

SEORANG teman saya dengan bangganya menunjukkan alamat media online yang baru dibuat dua bulan lalu. Rekan saya itu memang tidak punya latarberlakang usaha di bidang media, dia bukan jurnalis tapi pemborong. Dia bekerjasama dengan salah seorang wartawan Mingguan untuk membangun bisnis portal berita. Kata rekan saya itu, bisnis media online itu menguntungkan, biaya murah dan hasilnya mucekil. Apa benar demikian?

Harus diakui perkembangan media online atau portal berita online belakangan ini sangat pesat. Termasuk di Tatar Priangan. Ada sekitar 10 media online termasuk portal berita milik surat kabar lokal seperti Kabar Pringan dan Radar Tasikmalaya. Tapi hanya beberapa saja yang memenuhi standar jurnalistik. Selebihnya kontennya banyak yang masih copas alias kopi paste atau mencontek dari media online lain yang sudah mapan. Akibatnya asal-asalan. Sebenarnya mesin pencari Google akan mensuspend (menyetop) web yang kebanyakan kontennya  kopi paste. Hanya konten yang orsinilah yang disukai google.

Read More

Kalau motivasi membangun portal berita online untuk meraup iklan itu niatnya sudah benar. Tapi kalau hanya gaya-gayaan atau sebagai eksistensi saja bahwa kita punya media untuk menakut-nakuti birokrat itu sangat disayangkan.

Memang modal untuk membangun media online tak sebesar bikin koran atau majalah. Cukup beli domain dan menyewa hosting saja yang kisaran harganya mulai dari Rp 500-Rp 100 Juta. Harga hosting dan domain tergantung kualitas.  Membikin media online atau blog memang mudah, masalahnya memeliharanya sulit dan perlu dana besar untuk membeli konten. Perlu tim redaksi yang kuat dan memahami ilmu jurnalistik. Sebab portal berita onlione juga ada aturan mainnya. Salah-salah bisa terjerat UU ITE .

Jadi sangat disayangkan kalau ada reporter media online di daerah tak  digaji dan cara perekrutan repoternya asal-asalan. Produk yang dihasilkannya tak maksimal. Bisa jadi malah kopi paste atau plagiat.

Sebaliknya kalau dikelola secara profesional portal berita online bisa menguntungkan. Buktinya di Amerika Serikat  media online mulai membuktikan kejayaannya. Untuk pertama kalinya, pendapatan iklan dan pembaca online telah melampaui surat kabar cetak. Dari laporan terbaru, Pew Research Center’s Project for Excellence in Journalism, pendapatan iklan online di Amerika Serikat menyalip pendapatan iklan di surat kabar pada tahun 2013.

Studi ini juga menemukan bahwa lebih banyak orang — 46 persen orang Amerika yang disurvei — mengatakan mereka mengakses berita online setidaknya tiga kali seminggu, melawan 40 persen yang mengatakan mereka mendapatkan berita dari koran dan situs pendamping media mereka.

Hadirnya komputer tablet dan penyebaran smartphone lebih mempercepat perkembangan media online di Amerika Serikat Pendapatan iklan koran selama empat tahun dari tahun 2010 turun hingga 46 persen atau sekitar US$ 22,8 miliar. Sementara iklan online mencapai US$ 25,8 miliar pada tahun 2010.

Lantas bagaimana di Indonesia dan di Tatar Priangan?

Media online di Indonesia diawali oleh detik.com. Detik.com lahir Juni 1998, saat Soeharto dilengserkan. Dulu media massa headline sama persis karena masih dikontrol pemerintahan pada zaman itu dan harus ikut permerintahan itu semua. Tahun 1994, internet sudah masuk ke Indonesia. Yang pertama ada akra.com, dia yang membuat detik.com, kompas.com dan lain-lain. Awalnya kompas.com isi berita dan kontennya sama seperti di koran harian kompas, hanya memindahkan saja. Itu berbanding terbalik dengan detik.com yang benar-benar beritanya online tanpa ada korannya. Makanya sebagai pioner pendapatan iklan detik.com yang terbesar.

Sebelum diakusisi oleh Trans Corp pendapatan iklan detik.com mencapai Rp 4-5 miliar perbulannya. Sedangkan untuk portal berita online di Jawa Barat belum ada yang kuat atau raihan iklannya masih di bawah Rp 100 juta/bulan. Misalnya saja portal berita milik koran seperti tribunjabar, pikiran-rakyat.com dan inilahjabar.com pendapatan iklannya belum signifikan masih kalah dengan iklan edisi cetaknya.

Apalagi di Tasikmalaya kalau pun bisa mereka meraih iklan karena kedekatan saja. Artinya iklan jual dedet  si wartawan meminta iklan kepada narasumber dengan imbalan bargaining positition. Tak akan mengungkap kasus atau kejelekan asal pasang iklan. Modus lama yang biasa dilakukan media abal-abal.

Sebenarnya  media online daerah (lokal) bisa eksis kalau bisa memelihara pendapatan utama yakni Iklan; Pelanggan Berbayar; dan Penjualan Konten. Iklan memang sumber pendapatan utama. Berupa bannner iklan, dengan dua model tarif yakni  sistem harga flat dan b. perview atau perklik (pay per click/pay per view).

Yang kedua Media online menjual konten ke media lain (koran, radio, televisi, portal lain) serta perusahaan/lembaga yang membutuhkan. Sindikasi juga berarti barter iklan dengan kelompok media tersebut. Contoh, di media online ada banner iklan koran, di koran diklankan media online tersebut. SINDIKASI juga bisa berbentuk subsidi penuh dari perusahaan induk karena online sbg side bussinessnya.*Dalam kelompok media berkepemilikan silang.

Pelanggan Berbayar. Income diperoleh dari biaya langganan pengkses melalui handphone/tablet. Berita-berita yang diakses secara khusus ini memiliki kelebihan karena bebas iklan/konten. Umunya jenis berita terpilih dengan tema-tema khusus-misalnya topik bola, kesehatan, politik, hobi dan sebagainya)

Penjualan Konten via SMS. Mirip pola nomor ) namun kali ini media online mengirim SMS berita-berita terupdate secara berkala ke pelanggannya.

*Pemerhati media dan alumni IAIN Ambon.

Related posts