Hari Pers Nasional dan Kesejahteraan Wartawan

  • Whatsapp

1-2Perdebatan panjang soal kesejahteraan wartawan belum kunjung usai. Para pewarta (wartawan/jurnalis) nasibnya ternyata belum sebaik dibandingkan dengan tugas berat yang mesti dijalaninya sehari-hari. Wartawan masih saja kere, meskipun tak semuanya.
Kenyataanya, para wartawan sendiri belum memiliki ketentuan gaji dan upah atau kesejahteraan minimal yang harus mereka terima dari tempat kerjanya, seperti halnya rekan-rekan buruh itu.
Namun wartawan ngak mau disebtu buruh, namun buktinya wartawan masih seringkali bergantung pada kebaikan manajemen perusahaan masing-masing. Karena kesejahteraan yang minim itulah beberapa wartawan terpaksa nyambil atau membuka usaha sampingan. Sepanjang tak berhubungan dengan profesinya itu sah-sah saja. Misalnya membuka warung makan, bengkel, loundry dll.
Kalau menjadi pemborong bagaimana? Soal itu menurut hemat saya sangat rentan. Maksudnya kalau jadi pemborong atau broker pemborong pasti agak berhubungan dengan profesi. Artinya si pimpro itu akan ngasih proyek karena melihat kita sebagai wartawannya.
Benarkah para wartawan di Jabar dan daerah lain umumnya belum memperoleh penghasilan yang memadai untuk kehidupannya sehari-hari?. Kalau dikategorikan penghasilan wartawan di Jabar dapat dibagi dalam beberapa skala, di antaranya: Skala tinggi, bagi koresponden media massa cetak/TV nasional; Skala sedang untuk wartawan media harian dan radio mainstream lokal; dan Skala rendah bagi wartawan media mingguan dan koresponden media nasional yang belum eksis atau kurang aktif menulis (karena penghasilan dinilai dari produktivitas menulisnya).
Berikuti ini daftar Gaji wartawan dari survey Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) tahun 2006. Kalau dianalisis barangkali ini gaji seorang karyawan tetap per bulan yang sudah bekerja setidaknya satu tahun lebih..
Tempo Rp 2,250 juta
Kontan Rp 2,3 juta
Kompas Rp 3,260 juta
Media Indonesia Rp 2,2 juta
Bisnis Indonesia Rp 4 juta
Republika Rp 2,2 juta
Berita Kota Rp 1,2 juta
Smart FM Rp 1,350 juta
VHR Rp 1,5 juta
KBR 68H Rp 3,2 juta
Trans TV Rp 1,7 juta
RCTI Rp 2,5 juta
SCTV Rp 2,150 juta
Metro TV Rp 2,8 juta
Indosiar Rp 2 juta
El Shinta TV Rp 1,7 juta
serta Detik Rp 2,4 juta”.

Nilai itu masih kurang bila dibandingkan dengan kebutuhan sekarang. Dilematis, Ironis dan berkumis. Tulisan ini dibuat tepat pada HPN tahun 2009

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *